Wednesday, 14 December 2011

Pemerintah Jangan Tutupi Akar Masalah di Papua

Rabu, 14 Desember 2011 | 10:10
Pemerhati masalah Papua yang juga pengacara Jhonson Panjaitan (tengah), Anggota DPR asal Papua Paskalis Kossay (kedua dari kiri) dan Sekretaris Eksekutif JPIC OFM Valens Dulmin pada diskusi Mendengarkan Papua di Jakarta, Kamis (8/12). (Foto: Istimewa)Pemerhati masalah Papua yang juga pengacara Jhonson Panjaitan (tengah), Anggota DPR asal Papua Paskalis Kossay (kedua dari kiri) dan Sekretaris Eksekutif JPIC OFM Valens Dulmin pada diskusi Mendengarkan Papua di Jakarta, Kamis (8/12). (Foto: Istimewa)

[JAKARTA] Anggota Komisi I DPR asal Papua, Paskalis Kossay meminta Pemerintah Pusat untuk tidak menutup-nutupi akar pesoalan yang sesungguhnya terjadi di Papua. Akar persoalan itu adalah keinginan masyarakat Papua untuk merdeka.

“Api membara ini belum dipadamkan. Api yang membara di Papua harus dilihat secara baik oleh siapapun. Api ini ada di mana? Saya kira di situ. Orang Papua ingin merdeka, ada ideologi ini,” kata Paskalis Kepada SP di Jakarta, Rabu (14/12).

Politisi Partai Golkar ini berpendapat, selama ini pemerintah terus menutup dan membungkus akar masalah ini. Caranya adalah dengan mengatakan bahwa persoalan Papua terjadi karena kegagalan pembangunan, ketertinggalan, keterbelakangan, dan pelanggaran HAM. Padahal, semua hal itu hanyalah akibat. “Apinya tidak dibuka. Jika api mau diselesaikan harus didialogkan. Ini yang tidak ada pemahaman,” katanya.

Karena itu, Paskalis mengharapkan, akar masalah terkait keinginan orang Papua untuk merdeka harus dijadikan materi dalam rumusan dialog Jakarta–Papua. 

Sedangkan terkait wacana dialog Jakarta-Papua, Paskalis menilai, kelompok-kelompok di Papua, terutama faksi yang menolak dialog harus diyakini bahwa dialog itu bisa menyelesaikan masalah Papua secara substantif. “Masih ada perbedaan persepsi antara stakeholders di Papua dan pemerintah pusat di Jakarta tekait dialog ini. Bagi kelompok-kelompok tertentu di Papua, dialog harus menyuarakan kepentingan dan perjuangan orang Papua. Sedangkan pemerintah pusat meminta agar dialog diselesaikan dalam kerangka NKRI,” imbuhnya.

Sementara Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq menyatakan, pemerintah harus menetapkan kebijakan untuk mengakhiri pendekatan sekuritisasi di Papua. Hal ini tidak berarti pemerintah melepaskan tanggung jawab keamanan atau karena pemerintah tidak punya kalkulasi untuk mengantisipasi risiko keamanan yang memang sudah menjadi tupoksi pemerintah.

“Pendekatan persoalan dan dinamika dengan pendekatan sekuritisasi sama seperti kita menyiram benih-benih api dengan bahan bakar yang akan menimbulkan api-api itu,” katanya.

Politisi PKS ini mencontohkan, ketika terjadi kekerasan di Paniai, jumlah aparat keamanan ditambah. Penambahan ini memberi indikasi bahwa pendekatan sekuritisasi memang belum berakhir di Papua.

Karena itu, Mahfudz mengharapkan, unsur-unsur yang tidak puas di Papua yang mengaktualisasikan gagasan dan aspirasinya agar menahan diri untuk tidak terlibat dalam tindakan kekerasan dalam bentuk apapun. “Semua elemen harus bisa menghentikan tindak kekerasan yang ada. Kedamaian di Papua adalah hadiah Natal dan tahun baru,” katanya. [W-12]

Source: http://www.suarapembaruan.com/home/pemerintah-jangan-tutupi-akar-masalah-di-papua/14826 

Satu Lagi Penganiaya Bripda Ridwan Ditangkap


JT ditangkap di Jayapura dan sekarang ditahan di Polda Papua.

RABU, 7 DESEMBER 2011, 22:03 WIB
Maya Sofia, Syahrul Ansyari
VIVAnews - Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution menyatakan pihaknya telah berhasil menangkap satu tersangka barukasus penganiayaan terhadap seorang anggota polisi di Provinsi Papua, Bripda Ridwan Napitupulu. Sebelumnya, kepolisian telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
"Untuk kasus penganiayaan anggota kita Bripda Ridwan yang awal sudah ditahan tiga tersangka, kemudian ditangkap satu lagi atas nama JT. Satu orang lagi masih DPO," kata Saud saat ditemui di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu 7 Desember 2011.
Sementara untuk kasus penembakan terhadap dua anggota Brimob di Kali Semen, Kampung Wandigobak, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, sampai sekarang masih dalam pelacakan.
"Barusan saya kontak Kapolres Puncak Jaya, bahwa tim disana sedang berkerja mencari pelakunya. Ini barangkali yang bisa saya sampaikan," ujarnya.
Saud menjelaskan satu orang tersangka tersebut, yakni JT ditangkap di Jayapura dan sekarang ditahan di Polda Papua. Namun, dia belum dapat menjelaskan apa motif yang mendasari pelaku untuk melakukan penganiayaan.
Selain itu, Saud juga belum dapat memastikan dari kelompok mana mereka berasal. "Memang di daerah itu tempatnya OPM, tapi kita belum tahu apakah mereka termasuk kelompok itu," ucapnya. (sj)
• VIVAnews

Source: http://nasional.vivanews.com/news/read/270424-satu-lagi-penganiaya-bripda-ridwan-ditangkap 

Duduki Markas OPM, Satu Brimob Tertembak


Duduki Markas OPM, Satu Brimob Tertembak

Kepolisian tidak berhasil menangkap satu pun anggota OPM pimpinan Tadius Yogi.

SELASA, 13 DESEMBER 2011, 15:13 WIB
Ita Lismawati F. Malau
VIVAnews - Kepolisian berhasil menduduki markas gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Tadius Yogi di Kampung Wandinab Paniai Papua. Upaya ini sempat diwarnai baku tembak.

Kapolres Paniai AKBP Jannus Siregar menjelaskan upaya ini dilakukan Selasa 13 Desember 2011 sejak 09.00 WIT. Satu anggota brimob dilaporkan tertembak.

"Kami mengerahkan 68 personil yang terdiri dari Brimob Kelapa Dua Depok, Brimob Jayapura, dan anggota Polres Paniai," kata Kapolres. Salah satunya, Bripka Supono tertembak di bagian paha. Dia mengaku tidak tahu berapa korban yang jatuh di kubu OPM sebab mereka melarikan diri.

Selain itu, kata dia, polisi juga tidak berhasil menangkap satu pun anggota OPM ini. "Kami masih melakukan pengejaran, karena saat kontak senjata berlangsung, mereka sambil mundur masuk hutan," tukasnya.

Kepolisian menemukan sejumlah dokumen dan senjata di markas OPM ini seperti senjata tajam, panah, dan amunisi. "Sedangkan senjata api yang diperkiarakan ratusan pucuk, berhasil mereka bawa," paparnya.
Rencana selanjutnya, kepolisian akan menjaga TKP agar kelompok OPM tidak kembali. OPM pimpinan Tadius Yogi diperkirakan memiliki ribuan anggota, serta ratusan senjata api, beberapa waktu lalu dibawah komando John Yogi yang adalah anak Tadius Yogi, membakar jembatan di Distrik Paniai Timur. (Laporan Banjir Ambarita, Papua)
• VIVAnews

Source: http://nasional.vivanews.com/news/read/271845-duduki-markas-opm--1-brimob-tertembak

Wednesday, 30 November 2011

Mahasiswa Papua di Yogyakarta Dibuntuti & Dapat Teror

Prabowo - Okezone

Rabu, 30 November 2011 15:43 wib
ilustrasi bendera bintang kejora (Foto: Okezone)
ilustrasi bendera bintang kejora (Foto: Okezone)
YOGYAKARTA - Mahasiswa asal Papua yang menimba ilmu di Yogyakarta mengaku resah. Pasalnya, menjelang peringatan hari jadi Organisasi Papua Merdeka (OPM) 1 Desember besok, kegiatan mereka selama satu pekan ini selalu diawasi dengan ketat oleh orang-orang tak dikenal.

Bahkan saat mereka mengadakan suatu acara atau diskusi di wilayah pesisir pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, penuh nuansa teror dan ancaman.

“Aksi teror dan intimidasi melalui pesan singkat (SMS) sudah kami anggap biasa, tapi saat ini teror tersebut sudah sampai mengikuti dan membuntuti kegiatan kami. Kegiatan di asrama mahasiswa Papua di Yogya juga sering didatangi orang-orang tidak dikenal,” kata Pengurus Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Martinus, saat berkunjung ke Kantor LBH Yogyakarta, Jalan H Agus Salim, Rabu (30/11/2011).

Martinus menambahkan, intimidasi yang terjadi saat mereka berdiskusi bersama Solidaritas Anak Bangsa untuk Kemanusiaan (SABUK). Diskusi itu membicarakan masalah kemanusian. Sebab, mereka menilai banyak pelanggaran HAM yang dilakukan aparat keamanan negara terhadap masyarakat sipil di Papua.

“Mereka terus mengikuti kegiatan kami di mana saja. Kami tidak kenal mereka itu siapa, tapi ada juga yang mengaku orang Papua yang telah 30 tahun tinggal di Yogya, tapi kami tidak kenal mereka itu siapa,” jelasnya.

Martinus juga mengemukakan, belum lama ini masyarakat Papua di Yogya sudah bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X meminta perlindungan. Namun, ancaman dan teror itu masih terus terjadi hingga saat ini.

Sementara itu, Roni Simatupang mewaliki SABUK mengatakan, pihaknya meminta LBH Yogyakarta untuk membantu advokasi dan memberikan perlindungan terkait ancaman tersebut. “Kegiatan kami di bidang kemanusiaan dan tidak ada urusannya dengan politik tapi terus mendapat intimidasi,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Firdaus, anggota SABUK lainnya, pesan singkat yang diterima itu secara psikis sudah membatasi ruang gerak kegiatan yang dilakukan. Padahal berbagai kegiatan tak ada hubungannya dengan isu politik yang sedang terjadi di Papua. “Muncul isu ada sweeping yang dilakukan oleh pihak tertentu. Isu meresahkan itu mengakibatkan teman-teman kami pulang,” imbuhnya.
(kem)

Source: http://news.okezone.com/read/2011/11/30/340/536230/mahasiswa-papua-di-yogyakarta-dibuntuti-dapat-teror 

Saturday, 4 December 2010

West Papua deserves Barack Obama's attention
If East Timor-like horrors are to be avoided, Barack Obama and the west must not ignore abuses by Indonesian security forces
 
Dominic Brown
guardian.co.uk, Monday 15 November 2010 17.59 GMT
Article history


An independence rally that took place last week in the city of Manokwari in West Papua to coincide with Obama's trip to Indonesia. Photograph: West Papua Media Alerts

In his autobiography Dreams from My Father, Barack Obama recalls a conversation with his stepfather who had just returned home after a tour of duty with the Indonesian military in West Papua. On asking him: "Have you ever seen a man killed?", his stepfather recounted the bloody death of "weak" men.

Last month, video footage circulated online showing members of the Indonesian security forces brutally torturing Papuan civilians, including burning the genitals of an elderly farmer. It seems as far as West Papua is concerned, some things never change.

Earlier this year, the US administration announced the re-establishment of military ties with Indonesia's Kopassus special forces – the same forces implicated in the atrocities of East Timor. Leaked Kopassus documents released last week, have heightened fears that Indonesia's claims of military reform – a condition of the US deal – are without foundation. The documents show that Kopassus continue to engage in "murder and abduction" and include a target list of "enemies of the Indonesian state", including West Papuan church leaders, political and student activists.

Last year I travelled to West Papua to film an undercover documentary about the independence struggle. I found a land where the remnants of the Suharto era very much live on into the modern day – far from the image of democracy that Obama painted in his speech to the Indonesian nation.